Kisah Kami
Dari Seoul ke Lombok,
Perjalanan Penuh Berkah
"Sukma Rasa bukan sekadar restoran. Ini adalah buah ibadah — tempat di mana rezeki dibagi, bukan hanya dimakan."
Bapak Asmuni
Pendiri Sukma Rasa Lombok
Pada tahun 2004, seorang pemuda bernama Asmuni dari Lombok meninggalkan tanah air tercintanya untuk menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Korea Selatan. Dengan tekad kuat dan doa keluarga, ia berangkat mencari penghidupan yang lebih baik.
Selama bertahun-tahun di negeri ginseng, Asmuni bukan hanya bekerja keras — beliau belajar tentang kedisiplinan, etos kerja, dan manajemen bisnis. Namun yang paling berharga adalah pelajaran tentang keberkahan rezeki: bahwa harta hanya bermakna ketika dibagi.
Perjalanan
Tonggak Sejarah
Merantau ke Korea Selatan
Asmuni muda berangkat ke Korea Selatan sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Dengan modal tekad dan doa, ia memulai perjalanan yang akan mengubah hidupnya dan ratusan orang lain di Lombok.
Berdirinya Sukma Rasa
Kembali ke Lombok, Asmuni memulai usaha kecil-kecilan — cuci motor dan warung bakso sederhana di Labuapi. Dengan sambal khas Sasak dan resep turun-temurun, warung kecil ini pelan-pelan menarik perhatian warga sekitar.
Musibah Kebakaran
Ujian besar datang. Warung Sukma Rasa terbakar habis. Semua aset ludes. Namun Asmuni tidak menyerah. Bersama keluarga dan dukungan komunitas, ia memulai kembali dari nol dengan keyakinan bahwa setiap musibah menyimpan hikmah.
Bangkit & Berkembang
Sukma Rasa baru berdiri lebih kokoh. Menu semakin lengkap, kualitas meningkat, dan nama Sukma Rasa mulai dikenal wisatawan. Dari satu warung, lahirlah cabang kedua. Staf bertambah, sebagian besar purna PMI yang mendapat pelatihan kerja.
6 Cabang, 200+ Staf
Sukma Rasa telah tumbuh menjadi ikon kuliner Lombok dengan 6 cabang yang tersebar di jalur wisata utama. Lebih dari 200 staf, mayoritas purna PMI dan warga sekitar, mendapat nafkah dan pelatihan profesional dari Sukma Rasa.
Indonesian Migrant Worker Awards
Puncak pengakuan datang. Bapak Asmuni menerima penghargaan IMWA (Indonesian Migrant Worker Awards) dari Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia — bukti nyata bahwa semangat pekerja migran Indonesia mampu melahirkan karya besar di tanah air.
Filosofi
Sufi Korporasi
Sukma Rasa menjalankan bisnis dengan pendekatan yang unik: Sufi Korporasi — menggabungkan profesionalisme korporat dengan nilai-nilai spiritual Islam. Bagi Bapak Asmuni, setiap piring yang disajikan adalah bentuk ibadah, setiap staf adalah keluarga yang harus diayomi.
Ratusan staf Sukma Rasa menjalani pelatihan ESQ berbasis Asmaul Husna — bukan hanya dilatih memasak dan melayani, tetapi juga diajarkan nilai-nilai: saling menyayangi, merangkul sesama, dan mengayomi yang lemah.
Saling Menyayangi
Setiap staf adalah keluarga, pelanggan adalah tamu mulia.
Merangkul Sesama
Memberdayakan purna PMI dan masyarakat sekitar.
Mengayomi yang Lemah
Memberikan peluang kerja layak dan pelatihan hidup.
ESQ Asmaul Husna
Pelatihan spiritual dan profesional untuk seluruh staf.
Dampak
Angka di Balik Keberkahan
Pemberdayaan
Memberi Pulang Lebih dari Gaji
Bagi Bapak Asmuni, Sukma Rasa adalah rumah kedua bagi purna Pekerja Migran Indonesia. Mereka yang kembali dari luar negeri sering menghadapi kesulitan mendapatkan pekerjaan. Di Sukma Rasa, mereka tidak hanya mendapat gaji — tetapi juga mendapat keluarga baru.
Pelatihan Kerja Profesional
Pelatihan memasak, pelayanan, dan manajemen restoran bersertifikat.
Pembinaan Spiritual ESQ
Kajian rutin dan pengembangan karakter berbasis nilai-nilai Islam.
Kesejahteraan Keluarga
Program bantuan pendidikan anak staf dan santunan untuk keluarga.
Karir & Jenjang
Peluang promosi dari staf biasa hingga manajer cabang berdasarkan kinerja.
Indonesian Migrant Worker
Awards 2022
Penghargaan tertinggi bagi Pekerja Migran Indonesia dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. Diberikan kepada Bapak Asmuni atas dedikasi luar biasa dalam menciptakan lapangan kerja dan memberdayakan purna PMI melalui usaha kuliner Sukma Rasa.
Slogan Kami
"Anda lapar, ingat Sukma Rasa.
Anda kenyang, ingat Sang Kuasa."
Lebih dari sekadar tagline — ini adalah panduan hidup kami. Setiap piring yang tersaji adalah doa, setiap senyum pelayanan adalah ibadah.